Oleh: Kurniawan Golonda
Strategi sistematis yang memanfaatkan kelemahan dalam pendidikan, informasi, dan ekonomi untuk mempertahankan kekuasaan merupakan sebuah upaya manipulatif politik dinasti membodohi masyarakat saat kontestasi Pilkada. Seperti memonopoli media, mereka memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat dan menciptakan citra palsu untuk menipu masyarakat agar terus mendukung kelanjutan kepemimpinan dari keluarga yang sama.
Dengan memanfaatkan segelintir orang atau kelompok – kelompok dalam lingkaran setan yang terstruktur politisi dari dinasti membohongi masyarakat dengan membangun citra yang baik dan seolah-olah peduli terhadap rakyat. Misalnya melalui media dan kampanye yang masif, mereka berusaha membangun persepsi bahwa mereka adalah pemimpin yang ideal, jujur, dan penuh perhatian. Kenyataannya, kepentingan utama mereka adalah menjaga kekuasaan dari lingkup keluarga dan bukan kepentingan masyarakat.
Biasanya, Politisi dari dinasti selalu menjanjikan program perubahan atau perbaikan hingga peningkatan kesejahteraan saat kampanye, tetapi setelah terpilih, janji-janji tersebut hanya dijalankan setengah hati atau bahkan diabaikan. Janji manis mereka bertujuan hanya untuk meraih suara dari masyarakat, sementara kebijakan nyata yang dijalankan lebih ke mempertahankan status quo yang menguntungkan keluarga, kerabat dan sekutu politiknya.
Tak hanya janji manis, mereka juga sering kali bermain dalam sistem pemerintahan, memanfaatkan aparatur, menggunakan program-program sosial atau bantuan pemerintah sebagai alat politik pendekatan kepada masyarakat, namun program-program ini hanya bersifat sementara dan banyak dikucurkan menjelang pemilihan. Program seperti ini semata bertujuan untuk menyenangkan hati masyarakat bawah, tetapi tidak memberikan solusi jangka panjang atas masalah yang dihadapi oleh masyarakat khususnya kelompok rentan seperti buruh, petani, nelayan, pelaku usaha kecil dan pengangguran.
Strategi puncak mereka dalam mempertahankan kekuasaan adalah menggunakan politik uang untuk memenangkan Pilkada di daerah. Mereka menggunakan kekayaan dan sumber daya untuk membeli suara dan mempengaruhi kelompok-kelompok tertentu agar tetap mendukung mereka. Kemudian menciptakan ilusi bahwa dinasti tersebut populer di mata masyarakat, padahal dukungan yang mereka dapatkan adalah dibayar dan bukan hasil dari kepercayaan tulus masyarakat.
Jadi kesimpulanya, akal bulus politisi dari dinasti dalam membohongi masyarakat adalah suatu serangkaian strategi manipulatif yang dirancang untuk mempertahankan kekuasaan dilingkup keluarga, kerabat dan para elit. Dengan janji palsu, kontrol informasi, hingga politik uang, mereka mengaburkan kenyataan dan menciptakan ilusi bahwa mereka adalah pemimpin yang paling peduli terhadap rakyat. Disini masyarakat harus lebih kritis dan waspada terhadap modus operandi seperti itu agar tidak terus terjebak dalam permainan politik dinasti.(*bersambung)










