Oleh: Kurniawan Golonda
Untuk mempertahankan kekuasaan dalam pemerintahan maupun pengaruh politik didaerah, cara utama yang dilakukan oleh dinasti politik adalah mempersiapkan seseorang dari lingkaran keluarga paling dekat seperti anak atau adik kandung agar dengan cepat maju dalam kontestasi politik Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) meski kurang memiliki pengalaman atau kapasitas didunia politik.
Politisi yang mendadak diorbitkan ke panggung politik tanpa melalui proses panjang membangun karier politik yang matang seperti ini, menurut saya masih minim atau bahkan tidak memiliki pengalaman di dunia pemerintahan namun tetap dipaksa di promosikan sebagai calon kuat melalui popularitas instan, dukungan finansial besar, dan jaringan politik.
Dalam konteks kepemimpinan daerah, banyak yang meragukan apakah mereka memiliki pemahaman mendalam tentang birokrasi, kebijakan publik, atau kebutuhan masyarakat di berbagai sektor. Kemampuan untuk membuat keputusan strategis dan mengelola pemerintahan juga patut dipertanyakan, mengingat waktu mereka yang relatif singkat untuk belajar dan beradaptasi dengan kompleksitas dunia politik.
Politisi seperti ini hanya bisa memanfaatkan modal sosial atau kekayaan pribadi mereka untuk memenangkan pemilihan. Strategi kampanye mereka terus berfokus pada pencitraan dan memanfaatkan mesin politik yang ada, daripada menawarkan program kerja yang inovatif. Dukungan partai politik besar, pendanaan yang kuat, dan kontrol media juga menjadi faktor penting mereka dalam mendongkrak popularitas.
Tipu daya politik mereka juga patut diacungi jempol, karena mengandalkan strategi populisme dangkal atau memainkan isu-isu sensasional demi menarik simpati publik, dan taktik yang paling menggoda masyarakat bawah adalah janji manis peningkatan kualitas pendidikan, peningkatan disektor pertanian, perikanan, kesehatan hingga pengentasan kemiskinan yang belum tentu akan dijalankan saat memegang kekuasaan.
Sebagai masyarakat, marilah kita lebih kritis dan cerdas dalam memilih pemimpin, sehingga yang terpilih bukan hanya sekadar nama besar atau popularitas instan, tapi melahirkan pemimpin yang mampu membawa perubahan positif, berkualitas, berintegritas, dan benar-benar peduli pada kepentingan rakyat.(*bersambung)










