Oleh: Kurniawan Golonda
Pilkada 2024 adalah momen bagi rakyat untuk memilih Calon Bupati (Cabup) dan Calon Wakil Bupati (Cawabup) yang kompeten, bersih, dan memiliki integritas tinggi. Namun sayangnya, keikut sertaan kandidat dari dinasti politik sebagai calon pemimpin dangan permainan strategi politik kotornya mencederai harapan tersebut. Ini juga mencerminkan bagaimana mereka sangat berambisi mempertahankan nikmatnya memegang kekuasaan.
Salah satu contoh nyata disatu daerah, ada kandidat yang berambisi mencalonkan diri di Pilkada 2024 meski dipenuhi noda. Seperti pada saat dia memimpin daerah meski singkat dan berstatus sementara, ada hampir seratus paket proyek diduga bermasalah kini sedang dalam penyelidikan oleh Kejaksaan. Tidak cukup sampai di situ, berbagai kebijakan, seperti kegiatan di luar daerah maupun dalam daerah yang menghabiskan anggaran ratusan juta hingga miliaran rupiah tanpa kejelasan manfaat bagi masyarakat, juga tengah diselidiki oleh Kepolisian. Tak hanya itu, harta kekayaan fantastis yang dinilai tak masuk akal juga sempat menjadi atensi hingga di periksa KPK.
Hal ini adalah gambaran nyata bahwa kekuasaan digunakan untuk memperkaya diri, keluarga dan kroni-kroninya, bukan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Mereka ini menjadi simbol dari oligarki yang semakin mengakar di Daerah. Dengan mengandalkan pengaruh keluarga dan jaringan kekuasaan, mereka terus mempertahankan dominasi politik meskipun integritasnya dipertanyakan. Ironisnya, mereka sering kali memanfaatkan program populer dan retorika demi meraup simpati masyarakat yang kurang memiliki akses informasi.
Jika kandidat seperti ini terus diberi ruang dan kesempatan dalam memimpin, maka bukan tidak mungkin korupsi, kolusi dan nepotisme akan semakin merajalela. Pembangunan daerah akan tersendat, kesejahteraan masyarakat akan terabaikan, dan kepercayaan terhadap demokrasi semakin luntur. Ini bukan sekadar masalah moral, tetapi ancaman nyata terhadap keberlanjutan tata kelola pemerintahan daerah yang bersih dan transparan.
Masyarakat harus cerdas dalam memilih, Jangan sampai kita terjebak dalam permainan politik mereka yang hanya mengutamakan kepentingan segelintir orang. Demokrasi bukan alat untuk melanggengkan kekuasaan keluarga, tapi untuk menciptakan pemerintahan yang melayani rakyat dengan jujur dan adil. Sudah saatnya kita menolak kandidat yang tidak bersih, jangan pilih pemimpin dengan rekam jejak yang terbukti tidak berpihak pada kepentingan masyarakat.
Ingat, Jika kita memilih dinasti politik untuk terus berkuasa, kita tidak hanya mewariskan kerusakan kepada generasi berikutnya, tetapi juga menggadaikan masa depan demokrasi kita. Mari kita jadikan Pilkada 2024 sebagai momentum untuk memutus rantai korupsi, kolusi, nepostisme dan membuka jalan bagi calon-calon pemimpin yang berintegritas. Waktunya rakyat bangkit dan berkata, cukup sudah! So bole jo..!










