MEDIASATU – Kawasan Hutan Garini di Desa Buyat Barat, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), yang sebelumnya dikenal hanya dipadati aktivitas penambang manual, kini berubah drastis.
Puluhan alat berat jenis excavator terlihat beroperasi di lokasi tersebut, memicu kekhawatiran masyarakat terhadap kerusakan lingkungan yang semakin meluas.
Aktivitas alat berat itu membuat kondisi hutan yang sebelumnya masih dipenuhi pepohonan kini mulai gundul dan rusak. Sejumlah area tampak telah digusur untuk membuka akses dan lokasi pertambangan, sehingga meninggalkan bekas tanah merah dan lumpur di berbagai titik kawasan hutan Garini.
Warga sekitar pun menilai kehadiran excavator di kawasan tersebut semakin memperparah aktivitas Pertambangan Tanpa Izin (PETI). Mereka berharap aparat penegak hukum segera mengambil langkah tegas atas kerusakan hutan Garini.
“Sudah hampir sebulan terakhir kami melihat aktivitas pertambangan tanpa izin (PETI) menggunakan alat berat jenis excavator makin brutal di kawasan Garini. Karena itu, Polres Boltim diminta segera mengambil tindakan tegas untuk menghentikan aktivitas tersebut,” tegas warga Buyat Barat, kepada media Selasa (12/5/2026).
Kapolres Boltim, AKBP Golfried Hasiholan Pakpahan, SH, M.Si, merespons cepat informasi aktivitas PETI tersebut. Kapolres menegaskan bahwa pihaknya tidak akan mentolerir aktivitas ilegal tersebut.
Dia pun menegaskan, karena ini laporan warga, maka aparat kepolisian akan segera turun langsung ke lokasi untuk melakukan penertiban terhadap para pelaku PETI yang menggunakan excavator dalam aktivitas pertambangan ilegal di kawasan hutan Garini.
“Saya sikat. Hari ini juga anggota Reskrim turun untuk menertibkan pelaku PETI yang menggunakan alat berat, dan lokasi tersebut akan dipasangi police line,” tegas Kapolres.
APRI Boltim Desak Pangdam XIII/Merdeka Tindak Oknum TNI yang Diduga Terlibat PETI di Garini
Disisi lain, Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Asosiasi Penambang Rakyat Indonesia (APRI) Bolaang Mongondow Timur (Boltim) mendesak Pangdam XIII/Merdeka untuk segera mengambil tindakan tegas terhadap oknum TNI yang diduga terlibat dalam aktivitas PETI berskala besar di kawasan Hutan Garini, Desa Buyat Barat, Kecamatan Kotabunan.
“Aktivitas PETI menggunakan alat berat di kawasan Hutan Lindung (HL) Garini harus segera dihentikan karena dinilai semakin masif dan berpotensi merusak lingkungan, “ tegas Ketua DPC APRI Boltim, Hendra Abarang, S.Hut.
Hendra yang juga menjabat sebagai Ketua PC 2216 KB FKPPI Boltim menyebut, dugaan keterlibatan oknum Ketua Koperasi PRIMKOPAD TNI AD berinisial Kol. EDL perlu menjadi perhatian serius. Pasalnya, oknum tersebut diduga sering membawa nama institusi TNI dengan menyebut aktivitas PETI itu mendapat perintah dari pimpinan TNI.
“Aktivitas alat berat excavator saat ini sudah sangat masif bergerak di kawasan Hutan Lindung Garini. Selain mengancam lingkungan, kondisi ini juga mengancam aktivitas para penambang manual lokal yang selama ini mencari nafkah di wilayah tersebut,” tegas Hendra.
APRI Boltim juga mengaku telah berkoordinasi dengan pihak penanggung jawab kamtibmas di Boltim dan mendesak agar kawasan Hutan Lindung Garini segera ditertibkan guna mencegah potensi konflik di lapangan. Terlebih, kawasan tersebut memiliki status sebagai hutan lindung yang tidak boleh dieksploitasi secara ilegal.
Sementara itu, Sekretaris DPC APRI Boltim, Chindi H. Limo, menegaskan bahwa segala bentuk aktivitas yang melanggar undang-undang harus segera ditindak tanpa pandang bulu.
“Apapun bentuk pelanggaran hukum harus ditindak tegas, apalagi jika ada pihak-pihak yang selalu membawa nama pejabat TNI dalam konteks aktivitas PETI,” tegas Chindi.
Redaksi










