PemkabBolmutbanner 728x250

Tulude Mempersatukan Masyarakat

Bupati Boltim Sam Sachrul Mamonto, S,Sos, M.Si
Bupati Boltim Sam Sachrul Mamonto, S,Sos, M.Si

Masyarakat Desa Jiko Belanga, Kabupaten Bolaang Mongodow Timur (Boltim), etnis Nusa Utara meliputi, Sangihe, Talaud, dan Sitaro, Sulawesi Utara, menggelar upacara adat tulude di lapangan Desa Jiko Belanga, Kamis (3/2/2022).

Upacara tulude yang merupakan acara sakral dilakukan sebagai rasa syukur atas segala berkat terhadap Mawu Ruata Ghenggona Langi atau Tuhan yang Maha Kuasa, dihadiri langsung oleh Bupati Boltim, Sam Sachrul Mamonto, S.Sos, M.Si.

Bupati tiba pada pukul 14.17 WITA, didampingi istri tercinta Seska Ervina Budiman bersama rombongan disambut secara adat.

Selanjutnya, bupati bersama istri diajak kelokasi tempat pelaksanaan pesta tulude sambil diiringi tarian Pelonihaka serta drum band dari siswa SMP Satap Jiko Belanga.

Meski cuaca sedikit gerimis, namun bupati sangat menikmati suasana kebersamaan tersebut. Warga yang turut serta ikut bersama bupati dan rombongan pun tampak penuh kebahagiaan.

Setibanya dilokasi, bupati bersama istri dipersilakan dukuk di kursi yang telah disediakan oleh panitia. Penjemputan secara adat kembali dilkukan oleh Ketua Adat, Hendrik Martelu.

Dihadapan bupati sambil memotong kue Tamo, Hendrik mengatakan, tulude menjadi simbol kerukunan, persatuan, serta kebersamaan masyarakat. Dalam bahasa Sangihe, tulude berasal dari kata Suhude yang artinya tolak.

“Tulude dimaknai sebagai penolakan terhadap tahun yang lama atau menolak meratapi kehidupan di tahun sebelumnya dan kesiapan untuk menerima tahun baru, “ kata Hendrik.

Pada kesempatan penuh kebahagiaan itu bupati mengatakan, sangat bangga karena diundang di upacara adat Sangihe.

Bupati mengaku acara adat tulude seperti ini tak asing baginya, sebab sudah sering mengikuti upacara tersebut saat pulang ke kampung istrinya.

“Upacara tulude tidak asing lagi bagi saya, karena istri saya orang sangihe dan tiap pulang ke kampung istri, saya sering melihat dan mengikuti upacara adat tulude seperti ini,” ungkap bupati.

Bahkan menurut bupati, tulude adalah sebagai momen mempersatukan masyarakat yang sebelumnya terpecah belah karena politik.

“Jangan ada lagi berpikir negatif pasca Pilkada. Berpikir ke depan untuk menjaga kesatuan dan persatuan. Cukuplah di momen Pilkada ada perbedaan. Sekarang mari rekonsiliasi melihat ke depannya untuk bersma-sama, ” ujar bupati.(Rill)