Harga Rokok Murah, Perokok Anak dan Remaja Naik

oleh -
Ilustrasi asap rokok.

Jakarta, MediaSatu.co – Harga rokok yang terbilang murah menjadi penyebab naiknya angka perokok pemula (10 tahun – 18 tahun) di Indonesia.

Konsumsi rokok di Indonesia dilaporkan masih tinggi, yaitu sebesar 33,8 persenn. Angka tersebut didominasi perokok laki-laki dewasa yakni sebesar 62,9 persen, maka banyak perempuan dan anak-anak yang menjadi perokok pasif.

Kondisi ini semakin memprihatinkan dengan naiknya perokok anak dari 7,2 persen pada 2013 menjadi 9,1 persen pada 2018 menurut data yang sama.

Harga rokok yang masih terjangkau bagi anak dan remaja menjadi salah satu penyebab tingginya perokok anak. Selain itu, belum tegasnya larangan iklan dan sponsor rokok di Indonesia, menyebabkan masih banyak ditemuinya iklan-iklan dan sponsor rokok di tempat umum dan dapat dilihat oleh anak serta remaja.

Penelitian yang dilakukan oleh Tobacco Control Support Centre – Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC-IAKMI) pada 2017 menunjukkan bahwa masyarakat umum lebih banyak terpapar pada iklan rokok melalui TV (83,1 persen), banner (77,5 persen), billboard (69,9 persen). Selain itu, iklan rokok juga menyasar pada remaja usia di bawah 18 tahun melalui internet sebesar 45,7 persen, angka tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan keterpaparan kelompok dewasa melalui internet (38 persen).

Hasil penelitian tersebut juga menunjukkan adanya hubungan antara paparan iklan rokok pada beberapa media dengan status merokok pada anak dan remaja di bawah usia 18 tahun.

Gempuran industri rokok dalam menyasar anak dan remaja sebagai target kian nyata. Tidak hanya melalui iklan rokok yang memperlihatkan gaya hidup laki-laki dewasa, namun melalui promosi sponsor, CSR, dan juga inovasi produk-produk baru yang disesuaikan dengan minat dan gaya hidup remaja. Ditambah lagi, harga rokok yang masih terjangkau di Indonesia juga menjadi faktor anak untuk merokok sejak dini.

Penelitian PKJS-UI pada tahun 2018 menunjukkan sebagian besar masyarakat mendukung kenaikan harga rokok agar tidak mudah dijangkau oleh anak-anak dan remaja. Bahkan para perokok sendiri sebagian besar mendukung harga rokok naik demi melindungi anak-anak dan remaja dari candu asap rokok.

“Penelitian PKJS-UI yang mencakup responden dari hampir seluruh provinsi di Indonesia menunjukkan bahwa sebesar 80,45 persen perokok mendukung harga rokok naik untuk melindungi anak-anak. Dari situ terlihat bahwa perokok sendiri menyadari betapa bahayanya perilaku merokok, agar generasi muda khususnya anak dan remaja tidak mengikuti perilaku tersebut” jelas Aryana Satrya, Ketua PKJS-UI dalam webinar yang diselenggarakan oleh PKJS-UI dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), Kamis (11/6/2020).

Selain itu, peneliti PKJS-UI, Ni Made Shellasih menegaskan bahwa menaikkan harga rokok setinggi-tingginya juga menjadi salah satu pengendalian konsumsi rokok yang efektif untuk mencegah keterjangkauan membeli rokok oleh anak dan remaja dan mencegah menjadi perokok sejak dini.

Pengendalian konsumsi rokok melalui pelarangan total iklan, promosi dan sponsor rokok, Kawasan tanpa rokok (KTR) terutama di lingkungan sekolah, serta membuat harga rokok tidak terjangkau diharapkan dapat mencegah anak dan remaja dari target pasar industri rokok. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *